Minggu, 04 Oktober 2009
Salah Faham Itu
Meski tiada ucpan cintamu...
Hgga aq trpuruk pdamu...
Dan q tau kau mencntaiq...
Mngertilah arti sesuatu...
Kni aq sungguh rindukanmu...
Yg tlah lalu hnyalah egoq...
Tak sanggu p mnyakitimu...
Dengarkanlah, ku membtuhkanmu...
Meski engkau belumlah mlikq...
Hnya krna slah fham itu...
Kau menjauh drku...
Yg trjadi mengapa bgini...
Dua insan tk kunjg mngerti...
Rsa cnta dlu brsmayam...
Kni hnyalah dendam..
Liric by Kyra
Senin, 06 April 2009
SUBUH YANG DIRATAPI
Subuh Yang Diratapi
Demi subuh yang menyingsing pagi
Kuperkenalkan diriku yang penuh dosa
Hempasan ranting kering mengguyurku
Menjadikanku kuyup oleh kekeringannya
Basah oleh salahku sendiri
Meratapi kengerian senja kemarin
Dan kini takut pada kumandang adzan
Merangkak pada bayi kehidupan
Menjejalkan kaki pada jalanan baru
Cahaya putih yang terlampau
Pemberhentianku pada malam yang sesat
Oktober, 2008
BUNGA LAYU DI TEMARAM SENJA
Bunga Layu di Temaram Senja
Resah mengalir dalam pagiku
Mengetuk pintu batu yang mengeras
Entah kenapa, justru aku menjemputnya
Dahan ungu di kabut putih
Pada senja temaram bersajak
Coretan takdir dari hidupku
Membahana untuk bunga yang mati
Layu.....
Higga tak bisa mati
Tak bisa kembali
Hanya sekarat dalam waktunya sendiri
Hingga masa dianggapnya hanya
merangkak
Kesal pada waktu yang belum juga
menjemputnya
Apa maunya ?
Jika hanya untuk mati
Mati sajalah engkau
Tak ada yang peduli
Pada bunga layu di temaram senja
September, 2008
Sajak Sunyi ke-22
Sajak Sunyi ke-22
Pena itu terus bergerak menari membelai angan
Meluncur bersama sajak yang terus bersemi
Ah..... hari ini
Telah aku tuliskan sajak ini
Tentang sunyi, sepi dan sendiri
Telah lengkap kesedihan itu
Inilah sajak sunyi ke-22
Hey .....
Sajak mati bersendu
Saat cakrawala tak ada lagi batasnya
Sajak ini benar-benar mati olehnya
Toh sajakku tetap tercetak
Pena yang bosan itu tetap saja berteriak
Berontak pada jemariku yang usang
Aku....
Telah ku tulis sajak haru itu
Untuk menggapai pinsil warna dari malaikat
Untuk memulas dunia
Dengan warna yang tak rata
Seperti sajakku yang ke-22..
Februari 2008
Reinkarnasi Coretan Lama
Reinkarnasi Coretan Lama
Hujan di
luar semakin deras
Menjatuhkan titik awal kehidupan
Menyeruakkan tanda tanya
Ketika hilang bersama masa
Desah petir mengalun
Menggambarkan keresahanku
Ketika gundahku bertengger di kaca
Menampar jendela dengan galau
Mencabik suasana dengan tangisnya
Oh...
Tulian ini hanya mengalir saja
Membelai anganku yang gundah
Coretan lama yang kuulang lagi
Yang dulu hanya bertajuk kengerian
Cerita lama yang hidup
Kabut jingga telah datang
Yang aku ciptakan
Dalam puisi duka yang lalu
Lontar usang yang mengerang
Bereinkarnasi pada tulisan-tulisan
kaku
Heh...
Pernahkah aku menulisnya ?
Pertanyaan retoris menembakiku
Mulutku tentu diam
Tak mau bicara walaupun ku ingin
Sunyi...
Diam-diam mengendap mendekat
Ritual awal mulau beranjak
Kami tak tahu apa yang selalu ada
Di balik waktu yang begitu anggun
Yamh mengalun lebih indah dari
lagu
Seolah ratu yang bijaksana pada rakyatnya
Januari 2008
Ikut Terhanyut
Ikut Terhanyut
Padi membisik membelah hening
Kala pepohonan mulai mengantuk
Angin yang mengalir
Membujuk bersamanya
Hey...
Biarkanlah saja engkau terhanyut
Lepaskan saja, ikutlah mengalun
Biarkan hatimu menerimanya
Rahmat Allah Yang Maha Dikjaya
Awan bersambung yang mengapung
Seolah jembatan diatas sana
Sebagai jalanan antar samudera
Ah...
Dasar bodoh...
Kenapa aku tak ikut saja
Pada mereka selalu bahagia
Tiada resah pada dangkalnya mendung
Mereka bebas ...
Inginku...
Februari 2008
Ketika Gelap Menyisir Mentari
Ketika Gelap Menyisir Mentari
Gelap itu kini telah bercengkerama padanya
Membabi buta menembus takdir adanya
Melewati batas alam
Memberikan kesan pada dunia
Bahwa batas telah semakin hilang
Gelap telah keluar dari kekuasaanya
Malam pun kini semakin sunyi ditinggal tuannya
Aku adalah gelap
Mampu menggores batas itu
Aku...
Mampu menyisir mentari
Mampu membelai rembulan
Akulah sang gelap
Aku yang sendiri
Bersekutu dengan masa yang berputar
Menjadikan siang menjadi panutan
Akulah....
Sang gelap yang menyisir mentari
Februari 2008
PENGECUT
Pengecut
Tidurku tersita oleh mimpiku
Angan yang tak lagi punya peran di duniaku
Pembantaian yang begitu sulit diakhiri
Namun kenapa beberapa orang,.....
Ah, pantaskah mereka kusebut orang ?
Tapi mereka tak punya ekor untuk kupanggil binatang
Kata pengecut barangkali lebih tepat
Pengecut yang tak sadar dirinya pengecut
Hanya berani di bawah iba sang bunda
Sungguhnya ia takut pada dunia
Hamparan pasir-pasir melarat
Darah bumi bercucuran di mana-mana
Penjual senyum makin sedikit harganya
Masih kurangkah penderitaan di tanah kita ?
Hei, kau yang ku panggil pengecut
Di mana hatimu, dimana nuranimu
Dan dimana bukti bahwa kau manusia ?
Toh, Indonesia tetap sekarat
Dalam kekayaannya yang meruah
Digerogoti tikus-tikus pemerintah
Januari 2008
SENDIRI
Kala hening semakin membaur
Merapatkan tubuhnya pada keramaian kota
Melompati pagar-pagar kayu
Hingga berlari menanti usia
Kursi mati di sebelahku
Berdiri kaku
Ia mengerti aku termangu
Ia mengerti alam membisu
Sendirilah aku disini
Memintarkan diri yang semakin bodoh
Hingga akhirnya menyerah
Di tengah kamarku
Menengadah tapi ke bumi
Telah ada, langit tak sudi bicara
Hanya diam terbata
Menunduk selalu
Hingga pena ini berhenti berpikir
Desember 2007
Kantung Dosa
Kantung Dosa
Ketika manusia terbelah
Tak bia bersatu seperti dulu
Umat yang saling berkhianat
Menjadikan pergulatan sebagai hal biasa
Pena alam telah mencetak
Sebelum manusia lahir
Telah ada takdir
Ada sutradara di balik tirai dunia
Pertunjukan dengan skenario kehidupan
Hanya mengalun
Menikuti arus masa
Yang Esa, rinduku...
Semakin membahana
Dalam hatiku yang kecil
Berteman kantung dosa yang sesak
Terlalu penuh untuk dihitung
Tapi sayang...
Tak banyak manusia adalah biasa
Semua kantung dosa telah penuh
Kemanakan dosaku akan ditampung ?
Januari 2008
BANGUN DENGAN JATI DIRI
Bangun Dengan Jati Diri
Kicau burung yang mengiringi
Di kala aku bangun
Disapa bebatuan yang mengantuk
Di sana di seberang rumahku
Air menari gembira di bawah jembatan itu
Ikan-ikan yang bergumul
Seolah puas jadi dirinya
Melengkinglah suara itu
Kengerian dari dalam goa biru
Hantu yang terkejut pada ketakutannya
Diatas pematang rapuh
Ditengah hamparan kabut pucat
Disela-sela resah yang menyibukkan diri
Tampak jelas sesosok angin ingin menari
Kala aku bangun pagi itu
Mentari masih malu
Dia belum muncul dari kawah kesangannya
Sendiri di samping malam yang sepi
Menjadi melodi yang hanya melantun lemas
Mengiringi jati diri, yang tak pernah lekang berganti
Agustus 2007
Bauran Maya dan Nyata
Bauran Maya dan Nyata
Ketika angan merambah menaiki tangga kehidupan
Merembes bersama keringat langit di muara manja
Kekakuan yang merajai kesunyian
Ketika karang batu membiru muram
Matahari merona ungu
Bersama paruh nila burung jingga
Di depan jendela sarangku yang berderit
Mengorbankannya pada pesugihan waktu
Menyibakkan rahasia lara yang nestapa
Semua guru memurid
Pohob-pohon bersujud
Belenggu maya pada fatamorgana
Hingga surga meneraka
Sangat nyata...
Bersama maya...
Ketika keheningan membaur dalam
Kecemasan yang menggaung
Bersama maya...
Dalam kepakan gelap Sang Elang
Bersama nyata
Berbaur maya...
Januari 2008
Laut Murka
Laut Murka
Lenyapnya kesunyian itu
Seakan anugerah yang tidak pada tempatnya
Kesedihan yang mulai mengalir
Membanjiri kota dengan uap yang mendengking
Ketika langit cerah tanpa penghalang
Karena memang tak satupun masih berdiri
Seakan ingat akan Sang Kuasa
Seketika bersimpuh bersembah
Tak peduli manusia yang histeris
Melihat rerumahan berlutut di atas tanah
Kebahagiaan itu...
Dengan cepatnya berganti
Seolah tiada kala jeda
Hanya akhir yang seketika
Kini satu tanah telah goyah
Mendadak rata berkeringat laut
Mayat kaku dan rumah yang telah menjadi jenazah
Kuburan masal
Harga murah yang menyiksa
Itulah saat dimana Tuhanku marah
Hingga laut ikut murka meraba daratan
Januari 2008
PERJALANAN SENJA
Perjalanan Senja
Saat senja menghampiri kaki langit
Menetapkan waktu yang segera berakhir
Ketika malam merambah pecah
Menghempaskan tubuhnya pada kematian
Kala mentari mulai surut
Ku jejalkan langkahku pada jalanan
Memberi jejak keharuan
Yang kini hilang terseret awan
Perjalanan...
Tak seorangpun ada padanya
Rusuk ini tak dapat menahannya
Derit rasa berdesir perlahan
Membelah kelengahan yang menjalar
Oh...
Hidup begitu cepat
Perjalanan semu
Dengan kabut ungu
Membelaimu menuju gerhana bumi
Februari 2008
Tak Kembali
Tak Kembali
Pada masa yang berlari
Gantungan kayu yang membatu
Apa hendak di kata
Kayu bukanlah batu
Setiap guratan itu merengkuh angin
Meremasnya mengalahkan alam
Sungai yang kering itu menguning
Biarkanlah gelas pecah diatasnya
Apa daya yang pecah tiada kembali
Kesungguhan hati menciptakan angan
Merebak mengibaskan kuasa-Nya
Ketika tamparan hujan menggertak
Menggeram pada takdir yang sungguh adil
Karangan nadi yang mengalir
Memberontak diantara raungan kenestapaan
Toh semua tak akan kembali...
Masa terlampau kuat pada Tuhannya
Toh semua terus mengalir
Waktu tak akan mau menunggu
Siapalah dirimu yang kau sebut purba
Februari 2008
Waktu
Waktu
Deritan jarum jam meresah dalam mata
Menggertak waktu yang terus bicara
Selalu berputar padanya setia
Hentinya sesaat ketika mati menghampirinya
Kala mesin-mesin itu berkuasa
Alat Tuhan yang dikirim-Nya
Saat batas senja pagi tak kentara
Saat batas hitam putih mengabur
Oh.... begitu tekunnya sang waktu mengalun
Tak kembali walau masih banyak yang tertinggal
Ia sadar apa arti dirinya
Ia sadar betapa penting dirinya
Namun ia tak pernah bicara tentangnya
Waktu...
Mengalir merdu membelah masa depan
Meninggalkan lalu
Menghempaskannya pada kenangan
Begitu lama kau melakukannya
Jadwal alam dari Sang Kuasa
Februari 2008
Kematian
Kematian
Dari manakah datangnya suatu jeritan
Jika tidak dari nisan yang masih mengeLuarkan darah
Saat kudekap kabut yang menggerayangiku
Yang serupa dengan wajah yang terkubur dibawah nisan itu
Saat kabar kematian telah dikumandangkan oleh waktu
Saat langit mulai bosan dengan erangan burung itu
Pastilah ada seorang tua yang bergelut dengan kejenuhannya
Berlomba-lomba menuju gerbang putih yang memisahkan kehidupan
Siapakah yang lebih dulu dijemput oleh pengakhirannya ?
Seorang tua yang mulai bosan kehidupannya
Ataukah kehidupannya yang membosankan ?
Hanya teriakan langitlah yang bisa menjawab
Detak nafasnya yang ikut membayangi
Dengan pagar batu berwarna darah
Ditemani gumam angin yang menampar sang bulan
Tunggulah badai mengusung gelisahmu
Menjadikannya seonggok kecemasan
Mei 2007
Ego Yang Merajai Kebisuan Kita
Sahabat yang dulu selalu ada disampingku
Obat kesepian yang mengurung jiwa dalam kalbu
Rintihan egoku yang selalu menghinggapi anganmu
Rumah kecilku di dalam sarang pemberangkatanku
Yang kini hilang karena ambisi dan hasratku
Tiadakah nurani dalam diriku ?
Orang bilang seharusnya aku malu
Kata kasar yang terucap dari lidah konyol ini
Ikut merajai kebisuan antara kita
Kini aku sadar akan satu hal
Isyarat hati membutuhkan teman
Mungkin kini aku sudah terbangun
Yang dulunya aku hanya terlelap
Fatamorgana keegoisan yang menyergap diam-diam
Rasanya aku sangat butuh teman
Ingin rasanya aku minta maaf padamu, Teman
Tapi egoku yang terlalu tinggi meruntuhkan niatku
Namun kini aku berharap
Dendam kita sirna karna aku sangat membutuhkanmu
April 2007
Lembaran Usang Lontar Yang Menjawab
Fajar yang disambut mesra oleh embun
Gerimis yang datang berlompatan dari atap rumahku yang kelabu
Seolah mengeja seberkas sinar matahari yang mencoba menyusup
Di kejauhan burung-burung terkekeh
Melihat manusia yang mulai sadar akan kenyataan
Bahwa alam berubah mengerikan
Mungkin relief dalam salah satu sudut kuil kematian adalah benar
Bercerita tentang alam yang tak bisa selamanya menjadi kawan
Mungkin lagu-lagu yang anda lantunkan bukanlah lamunan
Kenyataannya kini alam sedang berperang
Mungkin inilah karma kita
Secuil balasan dari apa yang kita lakukan
Toh kita tak mau tahu
Nasib anak cucu yang kelak bertanya-tanya
Bagaimana bisa kita berada di tengah-tengah bencana ?
Sayang, kita tidak di sana untuk menjawabnya
Bencana alam yang menggusur manusia
Menggantikannya dengan Manusia kera pertama
Yang kelak akan menemukan
Lembaran usang lontar yang menjawab
Dari mana kita berawal ?
April 2007
MENANTI MUSIM
Menanti Musim
Kala musim semi masih dalam perjalanan...
Engkau telah datang menghangatkan aku...
Menembus musim dingin di depanmu...
Menjemputku dengan lembaran kasih sayang...
Disinilah aku...
Menanti dirimu...
Di sebuah kuil adam dan hawa...
Telah aku kirimkan sepucuk cinta...
Balasan dari alunan rasa...
Yang telah kau beri melebihiku...
Kita disini menanti musim...
Sebagai adam dan hawa kedua...
Menjalin kasih merajut asmara...
Menentang takdir kita bersama...
Januari 2008
